Birruuh Biddam Nufdiika Yaa Aqsa! Pekikan kalimat itu menggema ke seluruh sudut Ballroom, Hotel Dalton, Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar. Kata-kata yang berarti “dengan jiwa dan darah, kami akan memaafkanmu wahai Al Aqsa itu terus diulang, lalu diikuti penonton di bawah panggung.
Orang-orang antusias, dan larut dalam emosi saat anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), Meity Rahmatia berorasi di atas panggung.
Pada acara yang berlangsung, Minggu (9/2/2025) tersebut, anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera itu berbicara dengan berapi-api. Ia meluapkan kemarahannya kepada Israel, dan rasa harunya atas penderitaan yang dialami rakyat Palestina.
Meity mengaku, sudah berkali-kali ke Palestina sebelum pecah peristiwa 7 Oktober 2023. Disana, ia menyaksikan langsung penderitaan rakyat Palestina di Gaza. Anak-anak gizi buruk dan orang-orang kurus karena sering kelaparan.
“Saya melihat langsung, bagaimana perut anak-anak buncit dan kurus karena kekurangan gizi,” ungkapnya dengan tangis yang tak terbendung.
Meity yang tampil dalam balutan kerudung bendera Palestina di acara itu, mengecam perlakuan yang tak adil terhadap Palestina.

“Hari ini, saya berdiri di hadapan saudara-saudara sekalian sebagai bagian dari wakil rakyat Indonesia untuk menyampaikan sikap tegas dan tidak tergoyahkan.”
“Kita menolak segala bentuk intervensi politik yang berusaha membungkam keadilan bagi rakyat Palestina!” tegasnya mengisyaratkan upaya intervensi Amerika Serikat terhadap Mahkamah Pidana Internasional (ICC) baru-baru ini.
Diketahui bersama, ICC sebagai institusi lembaga peradilan global yang bertugas menegakkan hukum dan keadilan, memutuskan Benyamin Netanyahu sebagai penjahat perang beberapa waktu lalu. Menurut Meity, keputusan tersebut harus didukung dan dibela.
“Kita tidak boleh diam! Penolakan terhadap proses hukum ini bukan hanya serangan terhadap rakyat Palestina, tapi juga ancaman pada prinsip dasar hukum internasional yang kita junjung tinggi!” tekannya.
Seruan Meity Sebagai Anggota Parlemen Kepada Dunia
Menurut anggota Komisi Tiga Belas DPR RI tersebut, sanksi Amerika kepada ICC tidak hanya mengorbankan rakyat Palestina, tetapi juga seluruh dunia yang percaya pada prinsip hukum dan keadilan internasional.
Ia juga menegaskan, pembunuhan massal, pengusiran paksa, cerminan rumah-rumah dan fasilitas, serta blokade bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina adalah kejahatan perang
.Atas dasar itu, ia tersebar 4 poin ke dunia dan Indonesia;
- Menolak intervensi politik terhadap Mahkamah Pidana Internasional (ICC)! Keadilan tidak boleh dikendalikan oleh negara adidaya atau kepentingan politik tertentu.
- Mendukung langkah-langkah hukum untuk menuntut pemimpin Israel yang terlibat dalam kejahatan perang! Siapapun yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan harus diadili tanpa memandang bulu.
- Mendesak pemerintah Indonesia untuk memperkuat dukungan bagi Palestina di forum internasional! Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kemerdekaan dan hak asasi manusia, Indonesia harus berada di garda terdepan dalam perjuangan ini.
- Mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk terus menyuarakan kebenaran dan mendukung perjuangan rakyat Palestina! Kita dapat berkontribusi dengan berbagai cara: menyebarkan informasi yang benar, memberikan bantuan kemanusiaan, dan terus mendorong komunitas internasional agar bertindak tegas.
“Kita yakin, bahwa kebatilan tidak akan bertahan selamanya! Palestina akan merdeka! Keadilan akan menang!” Pungkasnya di acara yang juga diisi dengan hiburan nasyid Shoutul Harokah itu.