Skip to content

Fasilitas Pasien Jiwa Overkapasitas, Haris Abdurrahman Sidak RS Sayang Rakyat Makassar

Haris Abdurrahman mendengarkan laporan realisasi APBD Rumah Sakit Sayang Rakyat (Karda/sulsel.pks.id)

MAKASSAR – Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Haris Abdurrahman, kembali melanjutkan agenda pengawasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dengan mengunjungi Rumah Sakit (RS) Sayang Rakyat yang berlokasi di Jl. Pahlawan, Kelurahan Bulo Rokeng, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Senin (04/05/2026).

Kunjungan kerja ini bertujuan untuk memastikan efektivitas penggunaan anggaran serta menyerap aspirasi langsung terkait kendala operasional yang dihadapi fasilitas kesehatan milik pemerintah provinsi tersebut.

Kedatangan legislator dari Komisi E ini diterima langsung oleh Kepala Bidang Pelayanan dan Medik RS Sayang Rakyat, Dr. Marniar, M.Kes., Sp.GK (dr. Niar), serta Kepala Bidang Pelayanan, Penunjang dan Kefarmasian dr. Agus, beserta jajaran staf medis lainnya.

Krisis Kapasitas Pasien Gangguan Jiwa

Dalam pertemuan tersebut, dr. Niar mengungkapkan kondisi memprihatinkan pada Gedung Jiwa. Meski tahun lalu telah mendapatkan bantuan renovasi dari APBD, jumlah pasien dengan gangguan jiwa terus melonjak signifikan.

“Pasien kami tidak hanya datang dari Sulawesi Selatan, tetapi juga dari provinsi tetangga seperti Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Akibatnya, fasilitas yang ada tidak lagi memadai. Ruangan yang seharusnya diisi maksimal 4 orang, kini terpaksa menampung hingga 8 pasien,” terang dr. Niar.

Selain masalah daya tampung, ia juga menyoroti minimnya alat kesehatan (alkes) khusus pasien jiwa yang harganya tergolong sangat mahal, sehingga membutuhkan dukungan anggaran lebih lanjut.

Keluhan Transportasi dan Infrastruktur Jalan

Senada dengan hal tersebut, dr. Agus menambahkan bahwa pasien sering mengeluhkan akses transportasi umum menuju rumah sakit yang belum tersedia. Kondisi ini memaksa pasien mengandalkan transportasi pribadi atau online yang menambah beban biaya operasional masyarakat.

“Akses jalan menuju rumah sakit juga kecil dan mengalami kerusakan di beberapa titik, yang tentu menyulitkan mobilisasi pasien,” tambahnya.

Krisis Air Bersih: Bergantung pada Bantuan BNPB

Permasalahan krusial lainnya adalah ketersediaan air bersih. Hingga saat ini, jaringan PDAM belum menjangkau RS Sayang Rakyat. Pihak rumah sakit hanya mengandalkan satu mesin pompa sumur yang masih berfungsi setelah satu mesin lainnya mengalami kerusakan.

Untuk memenuhi kebutuhan harian, RS Sayang Rakyat harus meminta bantuan rutin dari BNPB. “Setiap hari BNPB menyuplai setidaknya 5.000 liter air bersih agar operasional rumah sakit tetap berjalan,” ungkap dr. Niar.

Janji Legislator Komisi E

Menanggapi rentetan kendala tersebut, Haris Abdurrahman menegaskan komitmennya untuk membawa permasalahan ini ke ranah kebijakan di DPRD Provinsi. Ia juga mencatat poin penting terkait lemahnya koordinasi antara RS Sayang Rakyat dengan Dinas Sosial dalam penanganan pasien gangguan jiwa.

“Sebagai anggota Komisi E, saya berjanji akan meneruskan dan memperjuangkan aspirasi ini. Masalah air bersih, akses jalan, hingga fasilitas pasien jiwa adalah kepentingan langsung masyarakat,” tegas Haris.

Haris menambahkan bahwa sinkronisasi antar-OPD, khususnya Dinas Sosial, harus segera diefektifkan agar penanganan pasien ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dapat tertangani secara komprehensif.

“Sangat wajar jika hal-hal mendasar seperti ini kita perjuangkan di masa mendatang agar realisasinya bisa dirasakan langsung oleh rakyat,” tutupnya.