Gelar FGD AI, Komdigi DPP PKS Dorong Pemanfaatan Teknologi untuk Penguatan Organisasi

Para peserta FG I Komdigi DPW Se Indonesia /karda.pks.id

MAKASSAR. Bidang Komunikasi Digital (Komdigi) DPP PKS menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman dan kapasitas organisasi dalam menghadapi perkembangan teknologi digital, Selasa malam (15/09/2026).

FGD dilaksanakan secara online, menggunakan fasilitas zoommeeting. Pesertanya, selain unsur pengurus Komdigi DPP PKS, termasuk Kabid Komdigi DPP PKS, Cing Mabruri, juga perwakilan Komdigi DPW PKS se-Indonesia, serta beberapa perwakilan Komdigi DPD PKS se-Indonesia.

FGD tersebut merupakan sesi pertama dari tiga kali pelaksanaan FGD dengan tema AI. Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai wilayah, termasuk Kabid Komdigi DPW PKS Sulawesi Selatan, Muhammad Anwar, bersama pengurus Komdigi DPW dan Komdigi DPD Se Sulsel yang sempat hadir.

Kegiatan menghadirkan Yugi Sukriana, S.T., M.Sc., selaku Principal Consultant (Policy & Technology) Dinalogika Consulting. Ia juga merupakan APO Certified Productivity Specialist dan Project Assistant pada GIST Project (Global Partnership for Human Centric ICT Standardisation) yang didanai Uni Eropa dengan cakupan Indonesia dan Filipina serta bermitra dengan badan standardisasi di kedua negara.

Dalam pemaparannya, Kang Yugi, sapaannya membahas peluang pemanfaatan AI dalam organisasi, dengan penekanan bahwa AI tidak sekadar menjadi alat bantu untuk menyelesaikan pekerjaan sederhana. AI dinilai berpotensi mengubah cara organisasi bekerja secara lebih menyeluruh.

“Konsep co-invention, yakni mendesain ulang proses bisnis dan operasional agar dapat memanfaatkan kemampuan teknologi AI secara optimal. Dengan pendekatan tersebut, organisasi tidak hanya menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan, tetapi juga mengintegrasikannya ke dalam proses kerja,”kata Kang Yugi.

Dalam konteks Komdigi, materi FGD menawarkan arsitektur pemanfaatan AI yang terdiri atas lima blok, yakni mendengar, memproduksi, mempersonifikasi, bertahan, dan infrastruktur mandiri.

Blok mendengar diarahkan untuk memahami publik, sentimen, isu, dan aspirasi. Sementara memproduksi berkaitan dengan kemampuan menghasilkan konten dalam berbagai format. Adapun mempersonifikasi berkaitan dengan pembangunan persona dan kehadiran digital, sedangkan bertahan mencakup deteksi risiko, krisis, dan disinformasi. Infrastruktur mandiri diarahkan untuk menjaga keamanan, kedaulatan data, dan kepatuhan.

Salah satu poin penting yang dibahas adalah prinsip “Data First”. Materi FGD menekankan bahwa pemanfaatan AI membutuhkan data yang berkualitas, terpercaya, terkelola, dan aman. Karena itu, organisasi perlu membangun fondasi data, tata kelola, kepemilikan, kualitas, metrik, serta kepercayaan sebelum mengembangkan pemanfaatan AI secara luas.

“Juga aspek keamanan dan etika penggunaan AI. Kami mengingatkan agar tidak memasukkan data internal atau sensitif ke layanan AI publik, membedakan data publik dan data strategis, serta memperlakukan prompt sebagai data yang berpotensi terekspos,”tegas Kang Yugi.

Dalam materinya, juga didorong penerapan sanitized prompting dan penggunaan infrastruktur terisolasi untuk data rahasia. Prinsip yang ditekankan adalah semakin sensitif suatu data, semakin tinggi pula kebutuhan terhadap pengamanannya.

Dalam diskusi tersebut turut dibahas sejumlah risiko penggunaan AI, antara lain halusinasi, yakni ketika AI menghasilkan informasi atau referensi yang sebenarnya tidak ada; krisis kepengarangan yang berkaitan dengan tanggung jawab pengguna terhadap konten yang dihasilkan; serta regurgitasi atau model collapse yang dapat terjadi akibat ketergantungan terhadap konten sintetis.

AI juga disebut memiliki sedikitnya enam kapabilitas yang dapat dimanfaatkan organisasi, meliputi perception & extraction, language & knowledge, creative production, automation & workflow, intelligence & decision support, serta security, integrity & ethics.

Dalam materi FGD ditegaskan bahwa AI bukan pengganti manusia, melainkan teknologi yang dapat memperkuat kapasitas organisasi. Manusia tetap memiliki peran penting dalam berpikir kritis, melakukan pemeriksaan, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan hasil kerja.

Karena itu, keberhasilan adopsi AI tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak teknologi tersebut digunakan, tetapi dari seberapa baik AI diintegrasikan ke dalam proses kerja, didukung fondasi data yang kuat, serta disertai keamanan dan kontrol manusia.

Dapat disimpulkan, bahwa AI pada dasarnya akan mengamplifikasi apa yang sudah ada dalam sebuah organisasi.

“Sesuai arahan dan materi yang dipaparkan, kami di tingkat wilayah sangat menyadari bahwa keamanan data dan kedaulatan informasi adalah fondasi utama. Penggunaan AI harus diimbangi dengan sanitized prompting dan kontrol penuh dari SDM kita. AI diplot untuk mengamplifikasi kapasitas pengurus dan relawan, namun kendali analisis kritis, etika, serta pengambilan keputusan strategis tetap berada di tangan manusia,” tegas Muhammad Anwar.